Guys, ada berbagai macam alat elektronika untuk mendapatkan energi agar bisa menyala atau digunakan, tidak hanya melalui colokan listrik saja baterai juga bisa digunakan. Sering kita menemukan beberapa alat yang menggunakan baterai agar bisa digunakan seperti remot televisi, radio dan masih banyak lagi yang lainnya. Kita tahu baterai dapat menghasilkan energi tanpa harus melalui colokan listrik.

Sebelum kita membahas bagaimana cara baterai menghasilkan listrik, agar lebih komplit tidak ada salahnya untuk kita mengetahui apa sih sebenarnya Baterai itu?

Pengertian Dan Jenis-Jenis Baterai

Bagi anda yang ingin mencari tau penjelasan mengenai Baterai, anda dapat membacanya seperti yang ada dibawah ini.

Yang dimaksudkan dengan baterai disini adalah sebuah alat yang mampu mengubah energi kimia menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk berbagai macam peralatan elektronik. Dari adanya baterai, sebagian alat elektronik yang ingin kita gunakan dapat kita bawa kemana saja dengan mudah.

Ada hal penting mengenai baterai yang harus anda ketahui. Baterai memiliki pusat positif atau katoda dan pusat negatif atau anoda dan juga elektrolit yang berguna sebagai penghantar. Output Arus Listrik dari Baterai adalah Arus Searah atau disebut juga dengan Arus DC (Direct Current).

Dari sedikit penjelasannya, ada beberapa jenis baterai yang mungkin sering kita gunakan pada beberapa alat elektronik seperti yang disebutkan diatas. Dan jenis baterai yang dimaksudkan tersebut adalah:

1. Baterai Primer (Baterai Sekali Pakai atau Single Use)

Baterai primer adalah jenis baterai yang paling sering digunakan dan telah banyak beredar dipasaran. Umumnya baterai jenis ini menghasilkan tegangan 1,5 Volt serta dengan ukuran yang berbeda-beda seperti AAA (sangat kecil), AA (kecil) dan C (medium) dan D (besar). Ada juga jenis baterai primer yang biasa digunakan hanya sekali pakai dengan tegangan berkisar 6 Volt ataupun 9 Volt.

Baterai primer juga dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang berbeda seperti:

  • Baterai Zinc-Carbon (Seng-Karbon)

Bagian dari baterai primer ini sering dikenal sebagai baterai “Heavy Duty” yang juga banyak dijumpai dipasaran. Jenis baterai ini memiliki bahan Zinc yang berfungsi sebagai pusat negatif dan juga pembungkus baterai. Dan pusat positif berasal dari karbon yang berbentuk batang.

  • Baterai Alkaline (Alkali)

Jika dibandingkan dengan jenis baterai Zinc-Carbon, baterai alkaline tergolong sebagai bagian baterai primer yang ketahanannya cukup diakui, maka dari itu baterai tersebut lebih mahal. Ia menggunakan Elektrolit berjenis Potassium hydroxide atau zat alkali hingga disebutlah sebagai baterai Alkaline. Sekarang ini ada banyak baterai yang menggunakan Alkaline sebagai Elektrolit yang juga menggunakan bahan aktif lain sebagai Elektrodanya.

  • Baterai Lithium

Diantara sekian banyak jenis baterai primer, baterai Primer Lithium sangat diakui sistem kerjanya. Jika tidak digunakan, baterai ini bisa disimpan dengan waktu yang sangat lama dan mampu bekerja pada suhu rendah. Berdasarkan kualitasnya itu, baterai ini sering digunakan pada Mikrokomputer maupun Jam Tangan. Dengan bentuknya yang hampir sama dengan uang logam, baterai ini sering disebut baterai kancing atau baterai koin.

  • Baterai Silver Oxide

Ini adalah jenis baterai terbilang mahal karena ada bagiannya yang terbuat dari perak serta harga perak yang tidak menentu. Baterai ini bisa menghasilkan energi dengan tegangan yang ringan dan bentuknya pun sering ditemui seperti baterai koin sehingga cocok pada jam tangan maupun kalkulator.

2. Baterai Sekunder (Baterai Isi Ulang/Rechargeable)

Jenis baterai yang kedua adalah baterai sekunder dan sebagai jenis baterai bisa diisi ulang. Untuk mendapatkan arus listrik, caranya sama dengan baterai primer namun reaksi kimianya dapat berbalik. Apabila baterai ini digunakan dengan menghubungkan beban pada terminal baterai, maka elektronnya mengalir melalui terminal negatif hingga ke terminla positif. Dan pada saat melakukan pengisian ulang, elektronnya akan mengalir dari positif ke negatif sehingga terjadi pengisian muatan pada baterai.

Baterai sekunder juga memiliki banyak jenis baterai yang tergolong didalamnya seperti:

  • Baterai Ni-Cd (Nickel-Cadmium)

Ini adalah jenis baterai sekunder yang menggunakan bahan elektrolit seperti Nickel Oxide Hydroxide dan Metallic Cadmium. Kemampuan dari baterai ini dapat digunakan disegala suhu serta memiliki ketahanan yang diakui. Keunikan dari baterai ini apabila saat sedang tidak digunakan, bisa melakukan pengisian sndiri.

  • Baterai Ni-MH (Nickel-Metal Hydride)

Jika dibandingkan dengan kerabatnya yang ada diatas, dalam segi keunggulan hampir sama namun jenis baterai ini kapasitasnya lebih besar dibandingkan dengan baterai Ni-Cd. Baterai ini juga tidak mengandung zat berbahaya yang dapat membahayakan lingkungan serta manusia. Sebagai pengisi daya, baterai ini dapat diisi ulang hingga sebanyak mungkin.

  • Baterai Li-Ion (Lithium-Ion)

Baterai ini merupakan jenis baterai yang banyak digunakan oleh banyak peralatan elektronik seperti Digital Kamera, Handphone, Video Kamera bahkan Laptop. Jenis baterai ini memiliki daya tahan yang sangat luar biasa dan dengan kapasitas yang lebih besar daripada baterai Ni-MH. Ini sama dengan beterai Baterai Ni-MH yang tidak mengandung zat zat berbahaya.

Rangkaian Seri Dan Paralel Baterai

Jika sedang membahas mengenai baterai, ada langkah dasar yang harus kita ketahui. Kita telah mengetahui bahwa baterai sebagai salah-satu alat yang bisa menghasilkan tenaga atau energi pada setiap peralatan elektronik. Pentingnya untuk anda ketahui, dasarnya baterai tersusun secara seri maupun paralel. Dibawah ini akan menjelaskan agar anda lebih paham bagaimana rangkaian seri dan paralel pada baterai.

A. Rangkaian Seri

Rangkaian seri adalah rangkaian listrik yang memiliki komponen dengan susunannya yang teratur. Contoh rangkaian seri baterai dapat dilihat seperti pada lampu senter serta remot TV.

Untuk lebih jelas lagi, hal tersebut dapat dipraktekkan sendiri. Bahan dan perlengkapan yang harus disiapkan adalah 2 buah baterai berukuran besar, 3 lampu bohlam kecil beserta dengan viting, 1 buah saklar, kabel kecil secukupnya, dan isolasi. Untuk membuatnya terbilang tidak sulit. Kita bisa melakukannya dengan mudah hanya meletakkan viting kecil secara sejajar dan kemudian dengan melilitkan kabel pada setiap viting. Lalu jangan lupa melilitkan kembali ujung kabel yang satunya pada saklar.

Setelah masing-masing ujung kabel telah terpasang, kemudian gunakan dua batu baterai dengan meletakkannya pada posisi negative-positif. Lalu kabel ditempatkan pada bagian positif dan negativ baterai kemudian rekatkan menggunakan isolasi. Untuk menandakan praktek tersebut berhasil, lampu akan hidup dan mati sesuai dengan On Off saklar.

B. Rangkaian Paralel

Setelah rangkaian seri, ada pula rangkaian paralel pada baterai. Ini sangat berbeda dengan rangkaian seri dimana rangkaian paralel tidak tersusun secara sejajar atau teratur. Contoh dari rangkaian paralel seperti pada lampu lalulintas. Seperti rangkaian seri, rangkaian paralel juga dapat kita praktekkan sendiri dengan menggunakan bahan serta perlengkapan yang sama.

Hanya saja penyusunan bola lampunya tidak secara sejajar melainkan bohlam yang letaknya diatas dan dibawah. Untuk membuatnya, kabel yang telah disediakan dililitkan pada setiap komponen. Dengan cara yang sama, baterai disusun secara berderetan dan setiap baterai telah tersambung oleh kabel. Ini akan menghasilkan perbedaan output dalam rangkaian seri dan paralel baterai.

Output pada rangkaian paralel menghasilkan arus listrik, sedangkan tegangan tetap sama. Misalnya ada 3 buah baterai yang tersusun secara paralel dimana setiap baterai memiliki tegangan 2 Volt dan 1000 miliampere per jam (mAh). Output dengan tegangan akan tetap sama sebesar 2 Volt. Apabila menghasilkan arus listrik menjadi 3 kali lipat sehingga menjadi sebesar 3000 mAh.

Hanya dalam penyusunan bohlamnya anda letakkan atas-bawah, bukan secara sejajar. lilitkan kabel pada masing-masing komponen. Dengan konsep yang sama, rangkaian paralel baterai yaitu baterai disusun tidak secara sejajar melainkan secara berderet. Masing-masing baterai dihubungkan satu dengan yang lainnya dengan kabel. Tentu terdapat perbedaan output dalam rangkaian seri dan paralel baterai.

Pada rangkaian paralel baterai, output yang dihasilkan sebaliknya, yaitu current atau arus listrik (ampere) akan meningkat, sedangkan tegangan (voltage) akan tetap sama. Misalkan anda menyusun 3 buah baterai secara paralel. Masing-masing baterai memiliki tegangan sebesar 2 Volt dan 1000 miliampere per jam (mAh). Nah, output yang dihasilkan yaitu tegangan akan tetap sama sebesar 2 Volt, tetapi arus listrik yang dihasilkan menjadi 3 kali lipat sehingga menjadi sebesar 3000 mAh.

Berbagai macam bahan kimia baterai

Banyak yang beranggapan bahwa baterai tidak banyak mengandung bahan atau zat kimia seperti halnya karbon dan juga seng. Tetapi kenyataannya bahan dalam pembuatan baterai sangat banyak baik itu baterai sekali pakai maupun baterai isi ulang. Tanpa panjang lebar lagi, dibawah ini akan menguraikan beberapa macam bahan kimia yang terdapat pada baterai.

1. Karbon

Dalam pembuatan baterai, salah-satu bahan kimia yang ada didalamnya adalah karbon. Karbon dibentuk sebagai batang karbon atau zat arang. Batang karbon sering digunakan sebagai elektroda positif pada baterai atau anode.

2. Seng

Seng atau yang lebih dikenal sebagai Zink merupakan sebuah logam dengan warna putih kebiruan yang bersifat diamagnetik. Tidak sama dengan batang karbon, dimana seng pada baterai difungsikan sebagai kutub negatif.

3. Air raksa

Ini lebih dikenal sebagai mercury yang biasanya ada pada termometer maupun barometer. Tapi ini juga terdapat pada baterai.

4. Litium

Litium adalah kandungan kimia yng sering ditemukan pada jenis baterai lithium ion. Ini juga dikenal sebagai logam alkali dengan warna putih keperakan. Seiring berjalannya waktu, litium banyak ditemukan pada perangkat elektronik modern seperti Hp, kamera, komputer bahkan pada kendaaran listrik.

5. Belerang

Belerang sama saja dengan sulfur yang menjadi salah-satu bahan kimia yang ada pada baterai. Belerang adalah suatu unsur yang bentuknya seperti kristal dengan warna kuning. Tidak hanya ditemukan pada baterai, belerang juga sering dijadikan bubuk mesiu, korek api, insektisida serta fungisida.

6. Antimon

Antimon adalah unsur kimia yang memiliki daya hantar listrik serta panas yang tidak terlalu kuat. Unsur kimia ini sering dimanfaatkan pada suatu produksi industri semikonduktor, diode serta detektor infra merah. Pada baterai, antimon termasuk sebagai unsur penguat baterai.

7. Timbal

Ini adalah salah-satu zat yang paling berbahaya terutama bagi manusia. Timbal dikatakan berasal dari kerak bumi dimana zat tersebut sering dijadikan sebagai bahan dalam hal industri termasuk pada pembuatan baterai, pipa air tahan korosi, cat serta sebagai campuran bahan bakar bensin tetraetil.

8. Hidrida

Hidrida merupakan nama lain dari ion negatif hidrogen. Sekarang ini berbagai macam hidrida sedang melalui proses penelitian untuk dijadikan sebagai bahan bakar mobil listrik maupun baterai. Dan kini, hidrida sudah banyak ditemukan pada jenis baterai Ni-MH.

9. Perak

Perak tidak hanya ditemukan dalam bentuk perhiasan saja, melainkan perak juga telah digunakan sebagai bahan kimia dalam pembuatan baterai. Jika dibandingkan dengan logam lainnya, perak memiliki konduktivitas listrik serta panas tertinggi.

Bagaimana Cara Kerja Baterai?

Tahukah anda bagaimana cara kerja baterai? Dibawah ini akan menjelaskannya untuk anda cara baterai bekerja.

Elektroda dan elektrolit adalah beberapa bagian baterai atau disebut sebagai zat yang dapat mengantarkan listrik. Secara umum, baterai yang sering kita pakai sehari-hari adalah baterai yang terdiri dari seng dan batang karbon. Keduanya ini memiliki sifat yang berbeda untuk menerima dan melepaskan elektron. Dibandingkan dengan batang karbon, seng merupakan suatu zat yang sangat mudah melepaskan elektron.

Dalam hal menghidupkan sebuah lampu dengan menggunakan baterai, elektron akan mengalir ke rangkaian melalui kabel dan akan kembali ke baterai hingga mencapai batang karbon. Batang karbon sulit untuk memberikan reaksi sehingga elektron yang ada pada permukaan batang karbon akan dimanfaatkan oleh elektrolit untuk memberikan reaksi kimia.

Bagaimana Baterai Bisa Menghasilkan Energi Listrik?

Setelah kita mengetahui cara kerja baterai, kini tiba saatnya kita untuk mencari tahu bagaimana baterai menghasilkan energi listrik. Langsung saja kita baca penjelasannya yang ada dibawah ini.

Energi listrik yang berasal dari baterai dikatakan datangnya dari kutub positif dan juga kutub negatif apabila kedua kutub tersebut tersambung pada pengantar arus atau kabel. Energi listrik yang datangnya dari baterai dikarenakan adanya reaksi kimia. Secara otomatis, reaksi kimia tersebut akan timbul pada saat kabel terhubung pada kedua kutub positif dan negatif.

Baterai yang kita gunakan sehari-hari dikatakan memiliki beberapa pereaksi kimia yang dapat menghasilkan listrik seperti logam seng, pirolusit dan garam salmiak.

Guys, baterai adalah sebuah alat yang mampu mengubah energi kimia menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk berbagai macam peralatan elektronik. Dari adanya baterai, sebagian alat elektronik yang ingin kita gunakan dapat kita bawa kemana saja dengan mudah. Baterai memiliki pusat positif atau katoda dan pusat negatif atau anoda dan juga elektrolit yang berguna sebagai penghantar. Output Arus Listrik dari Baterai adalah Arus Searah atau disebut juga dengan Arus DC (Direct Current).

Setelah anda membaca artikel seperti yang ada diatas, semoga dapat menambah pengetahuan anda. Untuk ini kami ucapkan selamat membaca dan tunggu kehadiran kami yang selanjutnya.