Dalam dunia Sains, terdapat beberapa pembahasan yang dapat menambah wawasan para pembaca. Nah, salah satu pembahasan Sains yang saat ini sering diperbincangkan yaitu “Astronomi”. Apakah kalian sudah tau mengenai hal ini? Perlu diketahui Astronot dengan Astronomi beda ya guys.. Nah untuk mempercepat waktu agar dimengerti, yuk mari simak ulasan berikut ini.

Pengertian dan Sejarah Astronomi

Astronomi adalah cabang ilmu alam yang meneliti tentang benda langit seperti bintang, planet, komet, dan sebagainya serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi seperti radiasi latar belakang kosmik.

Ilmu ini secara pokok telah mempelajari berbagai sisi dari benda-benda yang berada di langit seperti asal usul, sifat fisika atau kimia, meteorologi, dan gerak dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.

Namun, pada awalnya astronomi hanya melibatkan pengamatan beserta prediksi atas gerak-gerik benda langit yang di lihat secara mata telanjang (tidak menggunakan apapun) atau tidak menggunakan teleskop.

Pada beberapa situs seperti Stonehenge, peradaban-peradaban awal juga menyusun artifak-artifak yang diduga memiliki kegunaan astronomis. Observatorium-observatorium purba ini jamaknya bertujuan seremonial, namun dapat juga dimanfaatkan untuk menentukan musim, cuaca, dan iklim.

Astronomi di mulai berdasarkan perhitungan matematis dan ilmiah yang dulu dipelopori oleh orang-orang Babilonia. Mereka menemukan bahwa gerhana bulan memiliki sebuah siklus yang teratur yang disebut dengan “Siklus Saros”.

Semenjak mengikuti jejak astronom dari Babilonia, komunitas astronomi Yunani Kuno dan negeri-negeri sekitarnya telah berhasil di capai karena kemajuan demi kemajuan telah dicapai. Astronomi Yunani sedari awal memang bertujuan untuk menemukan penjelasan yang rasional dan berbasis fisika untuk fenomena-fenomena angkasa.

Pada abad ke 3 Sebelum Masehi, Aristarkhos dari Samos melakukan perhitungan atas ukuran Bumi serta jarak antara Bumi dan Bulan, dan kemudian mengajukan model Tata Surya yang heliosentris.

Pada abad ke 2 Sebelum Masehi, Hipparkhos berhasil menemukan gerak presesi, juga menghitung ukuran Bulan dan Matahari serta jarak antara keduanya, sekaligus membuat alat-alat penelitian astronomi paling awal seperti astrolab.

Mekanisme Antikythera yang terkenal sejak abad ke 80 ataupun abad ke 150 Sebelum Masehi juga berasal dari periode yang sama. Dimana komputer analog yang digunakan untuk menghitung letak Matahari, Bulan, Planet-planet pada tanggal tertentu ini merupakan barang paling kompleks dalam sejarah sampai abad ke-14, ketika jam-jam astronomi mulai bermunculan di Eropa.

Lalu, pada abad ke20 astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang, yaitu astronomi observasional dan astronomi teoretis. Astronomi teoretis adalah cabang astronomi yang berfokus pada teori-teori astronomi atau prediksi yang bisa diuji melalui pengamatan.

Para astronom teoretis menggunakan pengamatan untuk terus memperbaiki pemahaman kita tentang hukum fisika. Sedangkan dengan astronomi observasional merupakam astronomi yang memerlukan informasi tentang benda-benda langit, dan sumber utama yaitu radiasi elektromagnetik, atau lebih khusus, cahaya tampak.

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam konteks Astronomi, sebagai berikut:

  1. Altitut atau ketinggian suatu objek diukur dari garis cakrawala atau horizon.
  2. Azimut atau besarnya putaran sudut dari utara, timur, selatan, barat.
  3. Meridian yaitu garis khayal yang membentang dari utara keselatan melintasi tepat diatas kepala pengamat.
  4. Horizon atau Cakrawala yaitu batas pandang antara langit dan permukaan bumi.
  5. Zenit atau titik teratas tempat pengamat mengamati langit.

 

Lalu, Apakah Perbedaan Antara Astronomi dengan Astrologi?

Kamu belum mengetahui perbedaan antar keduanya? Dibawah ini ada jawabannya, antara lain sebagai berikut:

Astronomi merupakan ilmu yang mempelajari alam semesta dan benda-benda langit didasarkan pada metode serta perhitungan secara ilmiah, matematis dan sistematis. Astrinimi telah membagi langit menjadi 88 Rasi bintang.

Astrologi merupakan ilmu tradisi yang mempelajari tentang hubungan antara kejadian-kejadian di bumi dengan posisi dan pergerakan benda-benda langit misalnya matahari, bulan dan planet-planet serta bintang-bintang. Sedangkan Astrologi membagi langit menjadi 12 Rasi Bintang.

Apa Saja Yang Terdapat Pada Langit?

Langit juga memiliki beberapa benda yang dimana ketika kita melihat sekilas hanya terdapat bintang dan bulan saja. Namun ada hal lainnya yang terdapat disana? Antara lain sebagai berikut:

1. Matahari, merupakan salah satu benda yang sangat penting, sebab matahari mempunyai energi cahaya. Matahari menjadi pusat tata surya karena memiliki gaya gravitasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan matahari dikelilingi oleh planet-planet dan benda langit yang terdapat dalam tata surya. Pada tata surya, sekitar 98% massa tata surya terkumpul pada matahari.

2. Planet, merupakan benda astronomi yang mengorbit sebuah bintang atau sisa bintang yang cukup besar untuk memiliki gravitasi sendiri, sehingga tidak terlalu besar untuk menciptakan fusi termonuklir, dan telah membersihkan daerah sekitar orbitnya yang dipenuhi planetesimal.

3. Bintang, merupakan bagian dari benda langit yang memancarkan cahaya. Bintang yang terdapat dilangit terdapat dua jenis yaitu bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Sedangkan bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri.

4. Asteroid, merupakan bongkahan dari batu langit dan sisa logam dengan ukuran yang beragam sampai tidak memiliki ukuran yang beraturan. Sebagian dari asteroid terdapat di tata surya yang berada di antara planet Mars dan Jupiter. Mereka bergerombol membentuk suatu gugusan menyerupai sabuk yang beredar bersamaan untuk mengorbit matahari.

5. Meteor, merupakan benda angkasa berupa pecahan batuan angkasa yang jatuh dan masuk ke dalam atmosfer bumi. Ketika meteor masuk ke dalam atmosfer bumi maka akan terjadi gesekan dengan udara sehingga benda tersebut akan menjadi panas dan terbakar.

Meteor yang tidak habis terbakar di atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bumi disebut meteorit. Tumbukan meteorit berukuran besar pada permukaan bumi seringkali menimbulkan lubang besar di permukaan bumi yang disebut kawah meteorit, contohnya Kawah Meteorit Arizona di Amerika Serikat yang lebarnya sekitar 1.265 m.

Meteorit, merupakan meteoroid yang masuk ke dalam atmosfer Bumi, mengalami gesekan di atmosfer, dan jatuh ke permukaan tanah. Dari temuan-temuan meteorit inilah, para ahli mengetahui bahwa meteoroid terdiri atas batuan, besi, dan nikel.

Meteoroid, merupakan batu-batu angkasa berukuran kecil-kecil yang melayang-layang bebas di angkasa dan bergerak cepat. Lintasan meteoroid tidak beraturan dan tidak mengorbit kepada Matahari.

6. Komet merupakan benda langit yang mengelilingi matahari dengan orbit yang berbentuk sangat lonjong. Komet menyerupai seperti bintang. Komet sering disebut orang “Bintang berekor”, meski sebenarnya itu anggapan yang kurang tepat. Karena kalau bintang, berarti ia memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan komet tidak dapat memancarkan cahaya.

7. Galaksi merupakan sebuah sistem masif yang terikat dengan gaya gravitasi yang terdiri atas bintang (dengan segala bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang hitam), gas dan debu medium antarbintang, dan materi gelap–komponen yang penting namun belum begitu dimengerti.

8. Nebula, merupakan awan yang terdapat antar bintang yang terdiri dari debu, gas, dan plasma. Awalnya nebula ialah nama umum yang diberikan untuk semua objek astronomi yang membentang, termasuk galaksi di luar Bima Sakti (beberapa contoh dari penggunaan lama masih bertahan).

9. Satelit, merupakan benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Ada dua jenis satelit yakni satelit alam dan satelit buatan. Sisa artikel ini akan berkisar tentang satelit buatan.

Bagaimana Caranya Astronomi Menghitung Jarak Matahari?

Metode pengukuran jarak Matahari sebenarnya sudah menjadi salah satu hal yang terpenting penting sebab sudah dipikirkan oleh peneliti jaman dahulu. Menjelang tahun 1600an, para astronom seperti Copernicus sudah mengetahui jarak relatif planet-planet terhadap Matahari dengan dasar bahwa jarak Matahari dari Bumi adalah satu.

Namun karena jarak Matahari dari Bumi belum diketahui seberapa jauhnya, maka jarak semua planet juga belum diketahui secara jelas. Untuk mencarinya, tentu saja mereka sudah mengetahui sejak lama. Namun berbeda dengan paralaks bintang, sebab untuk mencari jarak Matahari atau planet-planet para astronom bisa menggunakan paralaks Merkurius atau Venus di kala transit di depan piringan Matahari atau paralaks Mars ketika diamati dari 2 lokasi secara bersamaan.

Pada tahun 1653, astronom bernama Christiaan Huygens mencoba menentukan jarak Bumi ke Matahari dengan ide yang cukup baik. Hasil yang diperolehnya cukup mendekati, namun ada sebagian langkah yang tidak saintifik, sehingga tidak dapat diterima secara luas.

Saat itu, Huygens memanfaatkan fase Venus yang tampak dari Bumi. Telah diketahui sebelumnya dari hasil pengamatan Galileo, bahwa Venus juga memiliki fase-fase selayaknya Bulan. Bentuk fase tersebut erat kaitannya dengan sudut yang terbentuk antara Matahari-Venus-Bumi.

Sedangkan dari pengamatan di Bumi, Huygens bisa menghitung sudut yang terbentuk antara Matahari, Bumi, Venus. Karena ketiga objek tersebut membentuk sebuah segitiga, maka dengan menggunakan trigonometri, dua sudut dan ditambah satu sisi (Bumi – Venus) yang sudah diketahui bisa digunakan untuk menghitung salah satu sisi lainnya (Bumi – Matahari).

Namun, disinilah letak kesalahan Huygens sebab jarak Bumi ke Venus sudah ditentukan berdasarkan asumsi, bahwa Venus berukuran serupa dengan Bumi. Dengan begitu, Huygens bisa membandingkan ukuran diameter sudutnya dengan ukuran yang sebenarnya.

Setelah Huygens menghitung dengan metode fase Venus, Giovanni Cassini di tahun 1672 juga mencoba mengukur jarak Matahari dengan metode yang berbeda, yaitu metode “Paralaks planet Mars”.

Saat Mars berada di titik oposisi, Cassini yang berada di Paris mengirim rekannya ke French Guiana untuk mengamati Mars pada saat yang sama. Ketika hasil pengamatan keduanya dibandingkan, mereka mendapatkan paralaks Mars jika dilihat dari 2 lokasi tersebut. Dan akhirnya jarak Matahari pun bisa dihitung dengan cukup baik.

Sekarang, jarak Matahari bisa diketahui secara lebih jelas dengan beberapa metode lainnya. Dari seluruh metode tersebut, kita bisa coba lakukan kembali pengukuran jarak Matahari menggunakan metode paralaks dan transit. Dengan begitu, kita bisa tau bahwa jarak Matahari bukanlah 6.000 km.

Selain itu, ada beberapa cara untuk bisa mengukur jarak matahari antara lain:

  1. Pada tahun 130, Hipparchos mengukur jarak matahari dengan metode Bayangan Bumi di Bulan dengan nilai jarak 5 juta mil.
  2. Pada tahun 1672, Cassini mengukur jarak matahari dengan metode Paralaks Mars dengan nilai jarak 98 juta mil.
  3. Pada tahun 1761, Various mengukur jarak matahari dengan metode Transit Venus dengan nilai jarak 109 juta mil.
  4. Pada tahun 1862, Foucault mengukur jarak matahari dengan metode Kecepatan cahaya dengan nilai jarak 92 juta mil.
  5. Pada tahun 1862, Hall mengukur jarak matahari dengan metode Paralaks Mar dengan nilai jarak 92 juta mil.
  6. Pada tahun 1862, Stone mengukur jarak matahari dengan metode Paralaks Mar dengan nilai jarak 92 juta mil.
  7. Pada tahun 1874, Various mengukur jarak matahari dengan metode Transit Venus dengan nilai jarak 91,7 juta mil.
  8. Pada tahun 1882, Houzeau mengukur jarak matahari dengan metode Transit Venus dengan nilai jarak 92,7 juta mil.
  9. Pada tahun 1889, Harkness mengukur jarak matahari dengan metode Transit Venus 1761-1882 dengan nilai jarak 92.797.000 mil.
  10. Pada tahun 1941, Jones mengukur jarak matahari dengan metode Paralaks asteroid Eros dengan nilai jarak 91,5 juta mil.
  11. Pada tahun 1960, Various mengukur jarak matahari dengan metode Gerak satelit Pioneer 5 dengan nilai jarak 92.670.000 mil.
  12. Pada tahun 1961, NASA/JPL mengukur jarak matahari dengan metode Radar Venus dengan nilai jarak 92.955.820 mil, 149.597.519 km.
  13. Pada tahun 2009, Astronomi Modern mengukur jarak matahari dengan metode Telemetri dengan nilai jarak 92.955.807 mil, 149.597.870,7 km.

Itulah penjelasan mengenai Astronomi. Dengan adanya artikel ini, kamu bisa mengetahuinya lebih dalam lagi ya guys. Tunggu artikel selanjutnya yang dapat menambah wawasan.